Posted by: notreallysuper on: April 15, 2009

Penulis baru saja menonton film yang berjudul THE FAST AND FURIOUS 4 dan mendapati dirinya cukup menikmati film tersebut. Yang penulis anggap paling menarik dari film itu adalah aksi kebut-kebutan yang berlangsung hampir sepanjang film. Hal ini mengingatkan penulis pada dirinya sendiri, yang notabene adalah pengemudi yang terlalu berhati-hati.
Film ini membuat penulis berpikir untuk mengurangi kadar kehati-hatiannya dalam berkendara. Oke kembali ke film. Film ini seru, menarik, menghibur, dan memuaskan dari segi aksi. Penulis juga menyukai salah satu tokoh utamanya yang bernama Brian O’Connor (Paul Walker) yang terlihat tampan di sana
. Penulis juga menyukai teknologi GPS yang banyak digunakan sepanjang film. Penulis berpikir apakah teknologi ini dapat mendeteksi jalan satu arah, kepadatan jalan, dan keadaan jalan (banjir/tidak). Jika ya, pasti akan sangat berguna sekali bagi kita yang senang berkendara dan menjelajah. Baiklah, sekian saja opini penulis mengenai film ini, sejujurnya penulis sedang malas menulis
. Terimakasih karna telah membaca tulisan ini, au revoir
.
Posted by: notreallysuper on: April 14, 2009

Baiklah, karna kemarin sore penulis baru saja menonton film lumayan baru rilis berjudul KNOWING bersama teman lama sekaligus tetangga agak jauhnya yang bernama Nova, dan karna penulis ingin mulai mencoba berpikir serius dan menulis hal-hal serius di sini (wordpress, red), maka penulis memutuskan untuk mengutarakan pendapat pribadinya mengenai film yang masuk dalam golongan sains fiksi tersebut. Terus terang penulis malas menulis reviewnya karna toh pembaca dapat melihat di sumber lain; penulis hanya akan mengutarakan pendapatnya mengenai hal-hal aneh dalam film ini.
Secara keseluruhan, film ini berlangsung normal-normal saja, bisa dikatakan tidak ada kontradiksi di dalamnya dan penulis menyukai hal itu. Hal yang paling penulis suka dari film ini adalah mengenai ide utama cerita yang diusung film ini yaitu mengenai konsep determinism vs randomness.
Sebelum melihat lembaran kertas angka yang mirip lembar hitungan psikotes, seorang professor astrofisika MIT a.k.a. Nicholas Cage di sana berpihak pada konsep randomness pasca kematian istrinya dimana doi tidak merasakan firasat apa-apa sebelum ajal menjemput istrinya dimana, jika hukum determinism yang berlaku, maka ia seharusnya mendapatkan pertanda atau firasat itu karna ia dan istrinya saling mencintai, maka seharusnya ada konektivitas mistis antara ia dan istrinya, bla bla. Pasca peristiwa itu, professor MIT tersebut kehilangan kepercayaan pada konsep determinism yang sebelumnya diagung-agungkan olehnya dan kemudian beralih menjadi penganut konsep randomness. Namun tentu saja, setelah melihat kertas angka yang mirip lembaran psikotes itu, dan mendapati arti dari sebagian besar angka-angka di dalamnya, dan mendapati bahwa penulis kertas angka itu (yaitu si cewek yang mirip orang autis, maaf, penulis lupa namanya) belum pernah melakukan kesalahan dalam penulisan angka-angka tersebut, sang professor MIT kembali condong ke konsep determinism. Si professor, sebagai ‘pria-yang-diberikan-petunjuk’ merasa perlu melakukan sesuatu untuk mencegah tragedi yang akan terjadi di masa depan, seperti dirujuk oleh kertas psikotes itu. Yah begitu saja sih jalan cerita film itu. Walaupun hampir sampai akhir, tidak begitu jelas juga kenapa si professor menjadi pria yang beruntung yang mendapatkan kertas psikotes itu dan sekaligus dapat memahami artinya, tapi hal ini jelas kok di akhir film, so tonton terus filmnya dan jangan berani-berani ke toilet
.
Oh sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis juga berpendapat akan ketidakpentingan batu-batu yang mendapat sorotan cukup penting di sana, tapi sepertinya batu itu cukup bagus juga untuk membuat film ini menjadi lebih berkesan (daripada tidak ada batu sama sekali, ya nggak?!
), dan tentang penulisan huruf E yang terbalik menurut sumbu tegak itu (jadi mirip penulisan notasi ‘terdapat’ dalam Matematika), juga hampir sama (untuk membuat film ini menjadi lebih berkesan, ketimbang tidak ada penulisan terbalik sama sekali
). Satu lagi hal dimana penulis merasa kurang setuju padanya, yaitu di kertas psikotes kan tidak tercantum mengenai detail waktu jam, lalu mengapa si professor MIT berangkat ke calon tempat kejadian tragedi siang-siang? Bukankah akan lebih baik jika dia tiba di awal hari, yaitu pukul 00:00?! Sejauh ini, hanya sedikit hal itulah yang agak mengganggu penulis.
Baiklah, penulis akhiri tulisan mengenai pendapat penulis mengenai film ini. Secara keseluruhan, film ini mengesankan, seru, cukup mengerikan, menegangkan, bersih dari adegan porno, dan tentu saja menambah pengetahuan, terutama tentang bagaimana gambaran dari flare (kantar/lidah api) yang sering dibahas dalam mata pelajaran Fisika. Oh dan penulis sendiri memihak pada konsep determinism. Pasti ada siasat Tuhan di balik segala peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Namun tentu saja, mengetahui jalan pikiran Tuhan bukanlah hal yang mudah. Namun begitu, kita sebagai manusia haruslah mencoba untuk merefleksikan setiap kejadian yang terjadi dalam hidup kita dan memohon petunjukNya atas kebingungan dan ketersesatan yang kadang terjadi dalam hidup ini, karna Ia Maha Tahu segala. Oke, penulis akhiri tulisan ini sampai di sini. Terimakasih karna telah membaca tulisan ini
.